Ada alasan yang cukup kuat kenapa berat kotor (gross weight) tidak dijadikan master field di ERP. Berat kotor dihitung atau disimpan di level transaksi, bukan di master barang.
Berikut penjelasan yang lebih strategis dan operasional.
1. Berat kotor bukan karakteristik barang yang stabil
Berat kotor = berat bersih + kemasan + material tambahan.
Masalahnya: kemasan sering berubah.
Contoh:
- Supplier A kirim barang dengan bubble wrap → berat kotor 1.2 kg
- Supplier B kirim barang sama dengan kardus tebal → berat kotor 1.5 kg
- Produksi internal pakai kemasan berbeda untuk batch tertentu → berat kotor berubah
Karena itu, berat kotor tidak konsisten, sehingga tidak cocok dijadikan master.
2. Berat kotor biasanya relevan di level logistik, bukan master
Berat kotor dipakai untuk:
- Perhitungan volume dan kapasitas truk
- Packing list
- Ekspor–impor (HS code, bea cukai)
Semua itu terjadi di level transaksi, bukan di level barang.
Karena itu, ERP lebih tepat menyimpan berat kotor di:
- Delivery Order
- Good Receipt
Kesimpulan
ERP tidak menyediakan berat kotor sebagai master karena:
- Berat kotor tidak stabil
- Lebih relevan di level transaksi
- Berbeda antar supplier, batch, dan kondisi packing
- ERP hanya menyimpan karakteristik barang yang konstan di master
